aku tak suka jika mengingat kamu lagi. Kamu bukan lagi
cerita indahku. Kamu seperti abstrak dalam bayangku. Salahku yang selalu perasa
tentangmu, selalu mengkaitkatkan setiap apa yang terjadi padaku. Aku bukan lagi
seperti dulu, yang masih mau kau genggam, masih mau kau pandang, dan masih mau
kau dekati. Aku bukan lagi aku yang selalu lemah tanpamu, aku bukan lagi
seperti bangunan di tepi pantai. Aku sudah kokohkan pondasiku, walau mungkin
tampak kurang sempurna. Kini, aku yang baru sudah tak seperti gadis kecilmu,
tak seperti dulu yang masih manja jika di dekatmu. Aku tak pernah bilang aku
kini mandiri, namun aku berusaha untuk lebih baik jika tanpamu. Aku rasa ,
cintaku sudah hilang, rinduku sudah padam, dan binar matamupun sudah tenggelam.
Aku tak bilang aku hapuskan semua tentangmu, namun aku padamkan bayang indah
hadirmu.
sebenarnya tak aku tak ingin menulis tentangmu lagi, menulis tentang september tahun lalu, atau apalah itu tentangmu. Namun entah mengapa, aku mengkaitkan hari ini tentangmu.
sebenarnya tak aku tak ingin menulis tentangmu lagi, menulis tentang september tahun lalu, atau apalah itu tentangmu. Namun entah mengapa, aku mengkaitkan hari ini tentangmu.
Tentang tangis kita, lelucon yang selalu terjadi pada
sesuatu hal yang kau sebut “cinta”.
Terkadang, aku tak mengerti kata cinta, arti cinta,
maknanya, definisinya atau bahkan semua tentang cinta. Aku kini tak faham.
Aku gelap yang selalu berteman bulan dan matahari.
Jika terang pernah datang padaku, sang suryalah saksi
tangisku,
Dan jika rembulan menemaniku, cahayanyalah saksi kesepianku.
Biarlah aku dan kamu berjalan berjauhan dan tak searah.
Semakin jauh, jauh dan tak tampak.
Jika aku menongok pada arahmu, doaku semoga jalanmu tak
pernah salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar